Pendidikan Karakter Dalam Lagu “Dondong Opo Salak” (Perspektif Islam)

Sebuah lagu merupakan curahan hati dari sang penciptanya, menulis baris demi baris, bait lagu tentu mempunyai makna atau pesan yang akan disampaikan kepada pendengar lagunya. Mengusik tentang lagu “Dondong opo Salak” dalam syair bahasa jawa, yang dipopulerkan pertama kali oleh penyanyi senior Krisbiantoro sekitar tahun 60-70-an, lagu tersebut adalah lagu  anak-anak, namun didalam syairnya yang lugas, tidak berbelit-belit dan mudah dipahami, apabila didalam,i akan memberikan pemahaman makna tentang pekerti yang luhur. Kira-kira seperti dibawah ini syair lagu tersebut.

Dondong opo salak, (Buah dondong, apa buah salak). Duku cilik-cilik, (Buah duku kecil-kecil) . Andong opo becak  (Naik kereta kuda atau naik becak) , Mlaku thimik-thimik.  (Jalan pelan-pelan)

Tidak perlu lama untuk menghafalkan lagu sedemikian pendek, mudah diingat. Kalau diperhatikan, buah-buahan yang disebutkan diatas bukanlah buah istimewa yang harganya selangit, ataupun mungkin buah impor, buah tersebut adalah buah lokal dan bahkan buah yang  murah, namun kemudian apabila kita berikan makna falsafah dalam buah tersebut tentu akan lain ceritanya.

Buah dondong/kedondong: seperti yang kita ketahui buahnya halus pada bagian luar, namun setelah kita makan, seperti apakah isinya?, berduri, teksturnya berantakan, bahkan kita harus berhati-hati untuk memakanya. Makna dalam hidup mengenai buah kedondong, menjadi manusia seharusnya antara lahir dan batin adalah sejalan. Apabila antara lahir dalam hal ini ucapan dan tingkah laku tidak sama dengan isi hati, bisa disebut dengan orang yang culas, bahkan dalam  islam, orang yang bertingkah seperti tersebut dianggap orang munafik, antara perbuatan dan ucapan sudah jauh berbeda. Dijelaskan dalam hadist berikut :

“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga. Jika berbicara ia berbohong, Jika berjanji ia ingkar, dan Jika dipercaya ia berkhianat”. (HR Bukhari)

Buah salak : buah yang satu ini berbalik dengan buah kedondong, seperti kita ketahui, buah salak, daging buahnya ditutup oleh kulit yang terlihat bersisik dan tajam, susah untuk di buka, tentunya masih banyak buah yang seperti  demikian, tampak luarnya saja yang tidak bagus, namun dalamnya sangat kita suka. Dalam kehidupan, bersosial dan bermasyarakat kita tidak boleh hanya melihat dan menilai seseorang dari tampak luarnya saja, tampak dari luar memang tidak baik, belum tentu isi hatinya. Kalau bahasa sekarang yang familiar adalah “inner beauty”. Pergaulan dimasa masa sekarang telah mendewakan penampilan saja, sehingga apa yang ada didalam seolah dapat ditutupi semuanya oleh penampilan luar. Tentang buah salak dalam kejadian saat ini adalah , apa saja yang luarnya tidak baik maka angapannya tentu bagian dalam juga tidak baik. Sikap yang demikian dalam Agama Islam bisa dianggap bersuudzan kepada orang lain, karena selalu menilai dari kulit luarnya saja.                                   

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan) karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa.” (Al-Hujurat: 12)

Buah Duku: Meskipun buahnya kecil, namun buah ini seharusnya menjadi wakil dalam memfilosofi hidup kita, kulit luar dan isinya sama, luarnya halus dalamnya pun demikian. Sudah seharusnya watak manusia yang beradab, berpendidikan dan berakhlak, paling tidak beriman kepada TuhanNya, akan menjalankan kebaikan, bertingkah laku layaknya gambaran buah duku, meskipun kecil antara kulit dan isinya sama-sama menunjukkan hal yang baik.

Kemudian dengan syair lagu selanjutnya. Andong Opo Becak, Mlaku thimik-thimik, makna dengan bahasa Indonesia adalah memilih naik andong atau becak, apa jalan pelan-pelan. Kalau kita maknai, kenapa harus memilih antara naik andong atau naik becak, tetapi kemudian ternyata yang dipilih adalah dengan jalan pelan-pelan. Berjalan menuju sebuah tujuan atau menggapai sebuah tujuan seharusnya dilakukan dengan pelan namun pasti, bukan mengambil jalan pintas, jalan yang memanfaatkan jerih payah orang lain atau dengan tenaga orang lain, sementara kita hanya berpangku tangan mengandalkan uang dan sesuatu yang dapat membeli tenaga atau jasa seseorang. Andong adalah filosofi dimana kita menggunakan tenaga kuda dan sang kusir untuk menuju sebuah tujuan, naik becak juga demikian, menggunakan tenaga sipengayuh becak untuk menuju sebuah tujuan. Semua perilaku menggunakan tenaga orang lain atau tangan kedua, dalam hal ini adalah memperlancar kegiatan dalam artian yang positif tentu tidak akan bermasalah namun apabila tujuanya adalah yang negative tentu sudah melanggar aturan, norma-norma yang berlaku di masyarakat, norma hukum, norma agama, norma sosial dan budaya. Dalam sebuah ayat Al-Quran dituliskan

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5)

Semua daya upaya dalam kehidupan tidak akan pernah lepas dari cobaan dan ujian, mencari sesuatu atau mengusahakan sesuatu tentu ada pengorbanan, untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan sifat pantang menyerah, bersungguh-sungguh dalam menjalankan apa yang diinginkan, insyaAllah akan tercapai dengan baik.

Pada syair “mlaku thimik-thimik”, jalan pelan-pelan, merupakan sebuah presentasi kesunguh-sunguhan dalam menjalankan upaya menuju tujuan. Dalam sebuah novel yang pernah saya baca, tentunya novel inspiratif, terdapat kalimat yang berbunyi “manjadda wa jadda”  yang artinya kurang lebih adalah, barang siapa bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil. Sebuah usaha dan kesungguhan hati, dalam artian antara usaha dan doa, dipompakan dengan semangat juang, tidak ada hal yang mustahil untuk didapatkan.

Kembali kepada topik pendidikan, perkembangan jaman yang luar biasa pesat, baik dari segi teknologi dan budaya, saat ini sudah sangat jarang ditemukan di sekolah-sekolah, menyampaikan pendidikan karakter melalui media lagu atau kegiatan lain, kita ketahui pendidikan karakter adalah upaya didalam membangun generasi yang santun, generasi yang cerdas, generasi yang menghargai orang lain, intinya adalah generasi yang berakhlak. Salah satu bukti pendidikan karakter yang gagal saat ini adalah siswa tawuran, hampir semua pemberitaan dimedia masa, tawuran pelajar terjadi di seluruh pelosok negeri. Adakah yang salah dengan sistem pendidikan Negara kita, yang biasa terdengar adalah setiap tahun selalu dibebankan standar nilai kelulusan semakin tinggi, apa yang terjadi kemudian, kong kalikong antara siswa dengan siswa, agar bisa lulus bagus, bahkan gurupun berperan terjadinya kecurangan membocorkan kunci jawaban dalam ujian nasional.

Harapan yang terbesar saat ini sebagai salah satu pendidik adalah memulai dari diri pribadi, untuk selalu menanamkan moral dan etika dalam setiap belajar mengajar, minimal bisa dimulai dari pendidikan keluarga, selalu mengingatkan pribadi masing-masing bahwa berperilaku jujur, adil tidaklah sesuatu yang kampungan atau kuno. Menjadi guru hebat tidaklah mudah, namun tetap harus dimulai,  Seperti  yang juga disampaikan oleh William Arthur ward, penulis paling inspiratif  pada fountain of faith, Amerika. Guru yang biasa, berbicara. Guru yang bagus, menerangkan. Guru yang hebat, memperagakan. Guru yang agung, member inspirasi.  Maka pilihan jatuh pada diri kita masing-masing, akan seperti guru yang manakah kita..?

 

 

Penulis : Suryo Hartanto, ST, M.Pd.T (Dosen Tetap Program Studi Pendidikan Matematika)

 

Random Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*